sensor mandiri

Hallo, apa kabar?
Siapa yang suka nonton? Pernah nonton bersama anak di Bioskop belum? Kalau sudah biasanya nonton apa? Kebetulan saya dan suami suka sekali nonton. Tapi setelah punya anak jarang sekali pergi ke Bioskop. Pernah sih dulu nonton Avengers tapi waktu anak saya masih bayi, itu juga terpaksa karena sudah sakau banget pengen nonton, hihihi.

Sosialisasi Lembaga Sensor Film

sensor mandiri

Sabtu, 27 Juli 2019 lalu, saya dan teman-teman Blogger diundang untuk menghadiri acara dari Sosialisasi Lembaga Sensor Film, yang diadakan di Hotel Aston Pasteur. Dihadiri oleh Bpk. Dodi Budiatman (Wakil Ketua Lembaga Sensor Film), Drg. Rommy Fibri Hardianto (Anggota Komisi Bidang Hukum & Advokasi LSF), Narwanto, S.H (Biro Hukum & Organisasi Kemendikbud RI), dan Prof. Zaitunah Subhan (Ketua Komisi II Bidang Hukum & Advokasi LSF).

Pada acara ini dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya. Setelah itu lanjut masuk ke materi yang membahas tentang Sensor Mandiri. Semakin banyak orang yang tidak peduli dengan informasi umur yang sudah dicantumkan pada setiap film. Seperti waktu nonton Avenger, film itu ditunjukkan untuk usia 13 tahun ke atas. Tapi masih banyak anak dibawah umur menonton itu karena ingin melihat tokoh super hero-nya. Padahal banyak sekali kekerasan yang tidak sesuai dengan usianya, jadi bagaimana?

Kategori Klasifikasi Usia

sensor mandiri

Sebagai penonton, Anda dan saya harus mengetahui klasifikasi usia dalam film. Peraturan ini diatur dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2014.

Penonton Semua Umur (SU)

Film dan iklan film dengan kode SU berisi judul, tema, gambar, adegan, teks terjemah, dan suara yang tidak merugikan perkembangan kesehatan fisik dan jiwa anak-anak. Dalam kategori ini juga film yang disajikan mengandung nilai budi pekerti, hiburan sehat, apresiasi, estetika, dan mendorong rasa ingin tahu mengenai lingkungan.

Selain itu juga orang tua dapat membimbing anak untuk mengenal mana yang fakta dan fantasi. Kategori atau lambang SU ini dapat Anda lihat pada layar lebar, penyiaran TV, jaringan informatika, dan media pertunjukan publik lainnya.

Penonton Usia 13 Tahun atau Lebih (R13)

Pada kategori ini merupakan Film dan Iklan Film yang khusus dibuat dan ditujukan untuk remaja yang mengandung nilai pendidikan dan ilmu pengetahuan, nilai sosial budaya, budi pekerti, hiburan, apresiasi, estetika, kreatifitas, dan menumbuhkan rasa ingin rahu yang positif tentang lingkungan sekitar.

Film dan Iklan Film kategori R13 berisi judul, tema, adegan, suara, gambar, dan teks terjemahan yang sesuai dengan usia peralihan dari anak-anak ke remaja.

Penonton Usia 17 Tahun atau Lebih (D17)

Film dan Iklan Film yang khusus ditujukan dan dibuat untuk dewasa berusia 17 tahun ke atas yang mengandung nilai pendidikan dan ilmu pengetahuan, budi pekerti, nilai sosial budaya, hiburan , apresiasi estetik, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Kategori D17 berisi judul, gambar, tema, adengan, suara, dan teks terjemahan yang sesuai dengan usia peralihan dari remaja ke dewasa.

Penonton Usia 21 atau Lebih (D21)

Film dan Iklan Film yang khusus dibuat dan ditujukan untuk dewasa berusia 21 tahun ke atas yang mengandung nilai sosial budaya, budi pekerti, hiburan, apresiasi estetik, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap dunia. Selain itu juga Film D21 berisi judul, tema, suara, adegan, dan teks terjemahan yang sesuai dengan usia dewasa.

Film dan Iklam Film kategori D21 dalam penyiaran TV hanya ada di atas pukul 23.00 sampai dengan 03.00 waktu setempat. Lalu dilarang dilakukan di lapangan terbuka atau di gedung pertunjukan nonbioskop kecuali untuk tujuan pendidikan dan penelitian.

Sensor Mandiri

sensor mandiri

Mungkin Anda baru mendengar istilah ini, jadi ini adalah perilaku secara sadar dalam memilah dan memilih tontonan. Jangan sampai salah membawa anak nonton yang tidak sesuai dengan kategori. Hingga saat Anda nonton menutup mata dan telinga anak pada adengan tertentu. Lalu menyalahkan LSF atau KPI tidak melakukan sensor dengan baik dan benar.

Padahal LSF dan KPI sudah melakukan sensor dengan benar sesuai dengan kategori umur. Kalau terlalu banyak sensor juga akan merusak hasil karya orang lain. Jadi ayoo kita sama-sama belajar untuk bisa melakukan sensor mandiri, dengan cara memilah dan memilih film yang akan ditonton.

Hal Sensitif Dalam Film

Jika Anda tidak melakukan sensor mandiri akan ada beberapa hal sensitif yang perlu diperhatikan dalam film, yaitu :

  1. Agama (pelecehan, penodaan, intoleransi, dan penistaan)
  2. Kekerasan (sadisme dan ancaman yang mudah ditiru)
  3. Perjudian
  4. Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adikiftif (Napza)
  5. Diskriminasi (SARA, gender, stereotipe)
  6. Pornografi

Hal sensitif diatas juga sudah ada dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2014.

Tips Menonton Film

Dengan perkembangan zaman yang mulai beralih ke dunia digital, maka sebagai orang tua harus pintar-pintar melakukan sensor mandiri untuk anak-anak Anda. Karena dalam Era Digital seperti sekarang, semua orang dapat menonton apa saja, kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja menontonnya.

Ada beberapa tips yang mungkin bisa Anda lakukan saat menonton Film, yaitu :

  • Dampingi anak saat menonton
  • Pilih film yang sesuai dengan usia anak
  • Batasi jam menonton
  • Meningatkan hal-hal baik yang patut ditiru dan penanaman nilai-nilai positif

One Reply to “Pentingnya Sensor Mandiri Dalam Menonton Film”

  1. Raja Lubis says: August 2, 2019 at 6:08 am

    Sama suka kesal kalau ada ortu yg ngajak anaknya nonton film dewasa, sudah dibilangin baik2 pun kadang ngeyel ��

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*