Monolog Wanodja Soenda

Halo, apa kabar? Semoga sehat terus ya 😊 

Monolog Wanodja Soenda
Photo di Photo Booth Monolog Wanodja Soenda

Di Blog Post kali ini, saya ingin bercerita tentang sebuah acara yang sangat menarik dan bagus sekali. Ini pertama kalinya saya menghadiri sebuah acara monolog Wanodja Soenda. Ini merupakan sebuah karya yang menceritakan tentang kekauatan wanita yang ada di tanah Sunda. Bagaimana cerita dan keseruannya, baca terus tulisan ini sampai selesai, ya! 🥰

Monolog Wanodja Soenda

Monolog Wanodja Soenda
Ibu Heni Smith – Direktur The Lodge Group

Bandung kembali lagi menghadirkan sebuah acara yang sangat menarik. Ini merupakan sebuah acara yang menceritakan sejarah perjuangan wanita di tanah Sunda. Monolog Wanodja Soenda ini merupakan persembahan dari The Lodge Foundation. Dimana yang membuat gagasan dan karya monolog ini adalah Ibu Heni Smith, selaku Direktur Utama The Lodge Group

Monolog Wanodja Soenda
Ibu Atalia Praratya Kamil Membaca Puisi

Acara ini pun langsung digarap secara apik oleh Wawan Sofwan sebagai Sutradara, Inaya Wahid sebagai Narator, dan Ibu Atalia Praratya Kamil sebagai pembaca puisi. Tentu saja dibalik sebuah kesuksesan Monolog Wanodja Soenda ini memerlukan penulis naskah yang hebat. Diantaranya Endah Dinda Jenura, Wida Waridah, Zulfa Nasrulloh, dan Faisal Syahreza. Pada acara ini juga didukung oleh Satoe Komunika, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, serta PT. Kereta Api Indonesia.

Baca Juga : Rythm of The Pines Volume 3

Monolog Wanodja Soenda
Inaya Wahid – Narator

Tanggal 29 Januari 2020 acara Monolog Wanodja Soenda akan diselenggarakan di Grand Ballroom Hotel Savoy Homann. Ballroom ini disulap untuk menghadirkan suasana Bandung saat tahun 1930-an dan mengisahkan tentang semangat perlawanan dari para wanita Sunda di Hindia Belanda. Perlawanan yang dilakukan wanita Sunda ini berkiprah pada bidang politik, pendidikan, dan seni budaya. Wanita-wanita itu adalah Raden Dewi Sartika, yang diperankan oleh Sita Nursanti, Lasminingrat, diperankan oleh Maudy Koesnaedi, dan Emma Poeradiredja, diperankan oleh Rieke Dyah Potaloka. Semangat perlawanan mereka terwujud dalam setiap pergerakan dari perhimpunan para wanita yang pada masa itu mengalami diskriminasi dan penindasan.

Emma Poeradiredja

Monolog Wanodja Soenda
Rieke Dyah Pitaloka Sebagai Emma Poeradireja

Dalam kisahnya, Emma Poeradiredja ini merupakan salah satu wanita Sunda yang memperjuangkan emansipasi wanita dan seorang aktivis yang duduk di Dewan Rakyat. Emma Poeradiredja ini senang sekali belajar, bahkan beliau merupakan salah satu wanita pertama yang melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hingga bekerja di PT. Kereta Api Indonesia dan tetap aktif di Kongres Pemuda Indonesia. Beliau juga mendirikan Pasundan Istri (PASI), karena ia ingin melihat wanita Sunda bisa maju dan memiliki pendidikan yang baik.

“Saudaraku perempuan di Tanah Air, baktikanlah hidupmu, berikanlah segenap tenagamu untuk membangun negeri ini. Berjuang dan bekerja sama dengan laki-laki sebagai manusia yang merdeka.” pesan Emma Poeradiredja.

Dewi Sartika

Monolog Wanodja Soenda
Sita Nursanti Sebagai Raden Dewi Sartika

Seorang pahlawan nasional wanita lainnya adalah Dewi Sartika, beliau yang merintis pendidikan untuk wanita. Beliau merupakan seorang anak dari salah satu pejuang kemerdekaan. Tapi ada kejadian dimana ayahnya harus dibuang ke Pulau Ternate, sehingga Dewi Sartika harus tinggal bersama pamannya di Cicalengka. Selama tinggal bersama pamannya, Dewi Sartika senang sekali belajar hingga mendirikan Sekolah Isteri. 

” Menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia. Melalui Sekolah Isteri, banyak wanita yang bisa membaca, menulis, berhitung, dan bahasa Belanda.” Seru Dewi Sartika.

Lasminingrat

Monolog Wanodja Soenda
Maudy Koesnaedi Sebagai Lasminingrat

Salah satu tokoh wanita Sunda yang luput dari perhatian. Padahal beliau adalah tokoh intelektual pertama di Indonesia, yaitu Lasminingrat. Beliau sangat pintar berbahasa Belanda, bahkan dapat menterjemahkan buku-buku cerita Belanda ke dalam bahasa Sunda, dimana buku-buku ini untuk anak-anak sekolah. Ada satu buku terjemahannya yang sangat terkenal adalah Carita Erman. Setelah itu Lasminigrat pun mendirikan sekolah Keutamaan Isteri, dimana di sekolah tersebut diajarkan cara merapikan pakaian, memasak, mencuci, menjahit, dan semua yang berhubungan dengan kehidupan berumah tangga.

“Wanita itu harus cerdas, karena memegang kehidupan di rumah tangga. Mulai dari dapur hingga kasur. Maka perempuan harus banyak belajar, keluar dari gua yang gelap untuk melihat indahnya dunia.” Ujar Lasminingrat.

Monolog Wanodja Soenda
Maudy Koesnaedi – Sita Nursanti – Inaya Wahid – Rieke Dyah Pitaloka

Ketiga tokoh Wanoja Soenda ini memaknai perjuangan dalam garis sejarah yang satu sama lain saling terhubung oleh tali semangat perubahan. Pergulatan tiga wanita Sunda ini pada dunia pendidikan dan politik. Bukan hanya menginspirasi tapi juga berani bertindak dan mengambil peran besar untuk tanah Sunda. Keputusan-keputusan berani, keluar dari paradigma yang menjerat lama kaum perempuan di masa penjajahan. Ketiga Wanoja Sunda disikapi dengan aksi dan kepercayaan akan keadilan berdiri sebagai manusia yang setara.

Baca Juga : Pentingnya Sensor Mandiri Dalam Menonton Film

Penampilan Wanita Muda Masa Kini

Sebelum acara Monolog Wanodja Soenda ini dimulai. Para pengunjung akan melihat pertunjukan dua orang wanita muda masa kini yang tengah berkarya. Dimana kedua wanita ini sebagai simbol bahwa kaum wanita juga mampu melakukan pekerjaan yang dianggap hanya bisa dikerjakan oleh kaum laki-laki. 

Monolog Wanodja Soenda
Edrike Joosencia – Pelukis

Yang pertama ada Edrike Joosencia, ia akan melukis di sebuah kanvas yang besar. Melukisnya bukan menggunakan cat air yag berwarna. Tapi menggunakan bahan seadanya, seperti arang, kopi, dan kunyit. Jadi zaman dahulu jika melukis tidak menggunakan cat air, tapi menggunakan bahan yang ada.

Monolog Wanodja Soenda
Risa Noorisa – Penempa Logam

Lalu yang kedua adalah Risa Noorisa, ia akan menempa logam. Dimana ini merupakan pekerjaan seorang laki-laki, karena alat yang digunakan cukup berat.

Monolog Wanodja Soenda
Bapak Ridwan Kamil Hadir Dalam Acara Monolog Wanodja Soenda

Nah, itu dia cerita keseruan saya saat menghadiri Monolog Wanodja Soenda di Savoy Homann. Acara ini sangat bagus dan sangat menginspirasi wanita-wanita masa kini. Semoga acara monolog ini bukan hanya diselenggarakan di Bandung saja, tapi bisa di seluruh Jawa Barat bahkan Indonesia. Karena wanita masa kini perlu mengingat lagi masa-masa perjuangan tokoh wanita zaman dulu yang sangat menginspirasi.

2 Replies to “Monolog Wanodja Soenda, Tentang Kekuatan Wanita Sunda”

  1. Anak Desa says: February 12, 2020 at 10:36 pm

    Ingat wanita Sunda, ingat Dewi Sartika. Wanita Sunda pertama yang saya tau, yang peduli dengan nasib kaumnya. Wanita yang dalam salah satu novel Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, diceritakan sebagai wanita yang sangat peduli dengan pendidikan.

    Acara ini menginspirasi saya untuk menggelar acara monolog di desa. Makasih Mba?
    Salam…

    1. Jeanette Agatha says: February 15, 2020 at 4:01 pm

      Hallo, ka 😊
      Terima kasih sudah mampir ke Blog saya. Ayoo ka, bikin monolog seperti ini juga. Supaya lebih banyak orang yang tau tetang sejarah dan perjuangan pahlawan terdahulu 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*