[Event] Seminar Psychobiometric di Lineation Center

Paling enak ya weekend melakukan hal yang produktif. Beberapa minggu lalu, saya menghadiri seminar di Lineation Center. Di Lineation center selalu mengadakan seminar rutin selama sebulan sekali. Kebetulan pas hari itu saya sedang kosong dan materi yang di bawakan juga sangat menarik.

Temanya adalah Psychobiometric Analysis, The Miracle of Vitamin C, dan Cantik alami dengan Face Lift Acupunture. Saat ini yang mau saya ulas sesi pertama, yaitu Psychobiometric Analysis.

Psychobiomentric Analysis / Analisis Psikobiometrik

Ibu Damayanti S.Pane, S.Psi

Untuk sesi pertama ini dibawakan oleh Ibu Damayanti S.Pane, S.Psi. Beliau adalah seorang konsultan analisis psikobiometrik di Lineation Center. Setiap orang dilahirkan dengan unik, maka mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Menurut JESS FEIST, McNeese State University, Louisiana,  kepribadian adalah pola yang relatif menetap dari karakter dan menunjukkan keunikan dari seorang individu. Ibu Damayanti menyampaikan bahwa test kepribadian tidak terlalu efektif, dikarenakan banyak orang akan mengisi setiap pertanyaan dengan tidak jujur dan hanya secara logika saja.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian, yaitu :

  • Lingkungan Sosial
  • Pola Asuh sejak kecil
  • Budaya
  • Agama
  • Pendidikan

Baca Juga : Cara Mengatasi Diare pada Anak

Psikobiometrik

Pada tahun 2008, di Indonesia mulai melakukan Psychobiomentric untuk di bidang pendidikan. Sebenarnya melakukan analisis sidik jari pada anak, bukan hanya untuk mengetahui pendidikan yang cocok. Akan tetapi, untuk mengetahui karakter dasar seorang anak. Jadi sebagai orang tua, kita mengetahui cara yang tepat untuk mendidik, mengajar, dan mengarahkan. Setelah mengetahui karakter seorang anak, orang tua akan lebih mudah mengetahui dan mengarahkan potensi yang ada dalam diri anaknya.

Begitu juga untuk kita sebagai orang dewasa, dengan melakukan analisis sidik jari (Psychobiomentric Analysis) kita akan lebih mudah menggali, menemukan, dan mengembangkan diri. Sehingga kita mudah menerima diri sendiri dan dapat berfungsi secara optimal dalam lingkungan.

Layanan Psychobiometric Analysis dan Manfaatnya

Pada dasarnya layanan psikobiometrik dilakukan dengan cara screening dan diagnostik mengenai Brain Pattern dan Brains Ways. Lalu melakukan diskusi penanganan medis dan non medis dengan dokter, konsultan, fisioterapi mengenai tumbuh kembang anak. Serta pengadaan group parenting, kelas body movement, dan layanan screening postural.

Psychobiometric bermanfaat untuk :

  • Mengetahui karakter
  • Bisa menentukan cara pengasuhan dan komunikasi yang tepat
  • Menstimulasi bakat atau potensi, mengenali dorongan minat
  • Mengetahui cara belajar yang responsif sensory indera
  • Melihat sampai sejauh mana daya tahan otak dan mental seseorang terhadap stress.

Triune Brain Theory

Pic : From Pinterest

Pada tahun 1960, seorang ilmuwan neurosains yang bernama Paul D. MacLean, memperkenalkan “Triune Brain Theory”. Beliau menjelaskan evolusi perkembangan otak, pada manusia terbagi dalam tiga struktur utama yang mempengaruhi motivasi seseorang. Yaitu Lizard Brain (Brain stem dan cerebelum), Mammal Brain (Limbic system), dan Human Brain (Neocortex).

Dari struktur utama otak dapat mempengaruhi pola otak kita juga. Brain Pattern atau pola dasar otak di bagi menjadi tiga juga, yaitu Arch, Loop, dan Whorl. Melalui pola otak ini kita dapat mengetahui kebutuhan dasar dan motivasi dari setiap orang.

Baca Juga : Gizi Seimbang untuk Keluarga

Sidik Jari Berhubungan dengan Otak

Sidik jari mempengaruhi cara kerja otak, loh. Jadi jari dari tangan kiri kita representative dari otak kanan. Begitu juga sebaliknya, jari dari tangan kanan kita representative dari otak kiri.

Setelah mengikuti seminar ini, saya ingin sekali membawa anak-anak ke Lineation Center. Untuk melakukan test sidik jari, agar saya mengetahui karakter dasar dan potensi mereka. Dengan begitu saya lebih mudah untuk menetapkan cara mengajar dan mengarahkan mereka sesuai dengan potensinya. Tentu saja saya juga ingin mengetahui potensi yang ada dalam diri. Hanya waktu itu saya tidak sempat untuk bertanya mengenai harga untuk melakukan Psychobiometric Analysis.

Apakah teman-teman ada yang sudah melakukan psikobiometrik untuk anak atau mungkin untuk anda pribadi? Boleh dong cerita bagaimana pengalamannya.

Pentingnya Komunikasi Dalam Keluarga

jeanettegy.com Family atau keluarga adalah tempat di mana kita di lahirkan dan bertumbuh di dalamnya. Keluarga juga tempat kita bernaung dalam suka maupun duka. Karena keluarga adalah tempat kita bernaung, maka harus adanya komunikasi yang terbangun dalam keluarga. Bagaimana kita bisa saling mengenal antara ayah – ibu, orang tua – anak tanpa adanya komunikasi? Jadi komunikasi itu sangat penting sekali dalam keluarga, tetapi yang sering sekali terjadi adalah sulitnya untuk berkomunikasi. Bahkan sebagian orang tua saat ini sangat sulit untuk berkomunikasi dengan anaknya yang mulai beranjak dewasa.

Pada hari Minggu, 18 Februari 2018 kemarin. Kami sekeluarga pergi beribadah di CLCC Bandung. Pada hari itu tidak ada Kotbah, hanya sharing dari keluarga Gembala Kami, Pastor Andi beserta istri (K Nining) dan anaknya (Cha cha). Bagus banget sharingnya, benar – benar itu yang sedang dibutuhkan oleh keluarga saat ini. Saya sendiri pun sangat ‘tertampar’ dan diingatkan untuk berubah secara pribadi. Saya akan share kembali apa yang sudah saya dapat dari sharing tersebut.

Tidak Ada Rumput Tetangga Yang Lebih Hijau

Pic: Pexels.com

No Perfect Family, No Best Way Untuk Mendidik Anak, dan apa yang Kita tabur akan dituai” – Ko Andi Setiawan-

Hari minggu kemarin Pastor Andi bilang, tidak ada keluarga yang sempurna. Setiap keluarga ada kekurangan dan kelebihannya. Maka tidak ada istilah ‘Rumput tetangga lebih hijau‘. Dan juga tidak ada cara yang terbaik untuk mendidik anak, karena tidak ada metode yang tepat untuk itu. Setiap anak itu mempunyai karakter yang berbeda dan unik, jadi tidak bisa melakukan didikan yang sama untuk setiap anak. Maka dari itu kita harus dekati dan kenali masing – masing anak, agar tau metode apa yang akan dipakai.

Dan apa yang kita tabur saat anak – anak masih kecil, akan kita tuai pada saat mereka besar nanti. Jadi mulailah untuk belajar mengerti dan memahami mereka tidak hanya menuntut ego kita saja. Mungkin pada prakteknya tidak mudah, tetapi jika kita mengandalkan Tuhan pasti semuanya dapat teratasi.

Hal – hal Yang Membuat Anak Enggan Berkomunikasi

Pic:Unsplash.com

Kemarin kita mendengar Cha – cha (anak dari Ko Andi dan K Nining) mengutarakan harapan sebagai anak terhadap orang tua. Buat dia pribadi komunikasi dengan orang tuanya tidaklah masalah, tetapi pada saat berkomunikasi selalu ada masalah. Jadi dari sisi anak, hal – hal yang membuat mereka enggan untuk berkomunikasi dengan orang tua adalah :

  • Ada rasa canggung, bingung, takut untuk bercerita. Karena tidak terbiasa dari kecil.
  • Kurang nyambung dan tidak merasa nyaman. Karena perbedaan sudut pandang (zaman dulu dengan zaman now).
  • Ada sesuatu hal yang penting menurut anak, tetapi menurut orang tua tidak penting. Misalnya, pada saat anak sudah membuat janji dengan temannya untuk pergi bersama, 2 minggu yang lalu. Tetapi sehari sebelum pergi, orang tuanya meminta untuk mengikuti acara keluarga dan minta untuk membatalkan pertemuan dengan temannya. Itu akan membuat anak kesal karena sudah janji pergi bersama temannya 2 minggu yang lalu, tapi sehari sebelumnya orang tua meminta untuk membatalkannya. Anak akan lebih senang untuk saling menghargai keputusan dan agenda mereka. Untuk masalah Hobi itu pun sangat penting untuk anak, karena hobi adalah tempat anak untuk mengasah kemampuan dan mengeksplorasi sesuatu yang baru.
  • Orang tua sering kali memaksakan kehendak. Pada saat anak ingin meminta pendapat, tetapi orang tua langsung menasehati dan mengarahkan.
  • Kita sebagai Orang tua sering kali tidak mengerti kondisi anak. Misalnya, pada saat anak cape pulang sekolah tetapi orang tua memaksa untuk mengobrol.
  • Terkadang orang tua tidak dapat di percaya. Misalnya, pada saat anak bercerita atau curhat , curhatan itu bisa bocor pada keluarga besar.

Harapan Anak Pada Orang Tua

Pic: Pexels.com

Bukan hanya orang tua yang mempunyai harapan terhadap anak, tetapi anakpun punya harapan terhadap orang tua. Ini adalah harapan anak pada orang tua, yaitu :

  • Jika ada masalah, anak berharap adanya komunikasi 2 arah, adanya diskusi, dan orang tua mau mendengar pendapat anak.
  • Anak berharap kita menjadi teman, dapat di bawa untuk bercanda, hang out bersama, dan dapat saling bercerita.
  • Orang tua bisa menyediakan waktu dan mengerti kondisi anak.
Pic: Pexels.com

Dengan harapan tersebut kita bisa mulai mengerti apa yang anak inginkan. Kita sebagai orang tua pasti ingin anak kita bisa selalu bercerita dan berkomunikasi sampai mereka besar nanti. Mari kita mencoba untuk mulai bercerita duluan, agar mereka terbiasa untuk bercerita juga pada kita dan bisa menjadi teman buat anak kita. Kita juga harus membedakan cara berkomunikasi saat mereka masih kecil dan mereka sudah dewasa nanti.

Pada umumnya saat mereka masih kecil, mereka lebih suka ditanya secara detail. Tetapi pada saat mereka sudah beranjak dewasa, mereka tidak suka ditanyai secara detail. Dan mereka senang jika diberikan kepercayaan.

Yang Harus Orang Tua Lakukan

Pic: Pexels.com

Selanjutnya, reaksi atau pemikiran yang muncul dari kita sebagai orang tua sangat berpengaruh dengan apa yang harus kita lakukan. Maka orang tua harus belajar untuk turun ke dalam dunia anak. Sebagai orang tua, kita perlu belajar beberapa hal, yaitu :

  • Belajar untuk mengerti.
  • Berusaha untuk mendekati.
  • Mencoba untuk memulai.
  • Memperlajari dunia anak.

Singkatnya, kita sebagai orang tua sudah pernah berada di posisi anak, tetapi anak belum pernah berada di posisi orang tua. Jadi kita sebagai orang tua harus mengerti anak – anak, walaupun itu bukan sesuatu yang mudah. Dan orang tua harus belajar untuk menghargai anak sebagai ‘Pribadi’, maka ego kita orang tua harus di kalahkan. Jika orang tua mengalahkan ego, hasilnya akan ada komunikasi yang terjalin.

Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Orang Tua

Pic: Pexel.com

Selain itu, ada beberapa hal yang harus orang tua perhatikan untuk kita bisa berkomunikasi dengan anak, yaitu :

  1. Komunikasi harus dibangun  secara personal. Karena setiap anak punya pendekatan yang berbeda. Untuk mengenali mereka, kita harus memberi sentuhan secara pribadi atau personal.
  2. Diusahakan komunikasi dibangun sedini mungkin, tidak ada kata terlambat.
  3. Dengan suasana yang nyaman, komunikasi dapat terbangun. Orang tua tidak mengurui dan menasehati, secara tidak sadar itu adalah agenda orang tua. Kita harus mengambil posisi sejajar (mendengar dahulu sebagai teman), dengan bahasa penerimaan (jangan banyak menuntut). Apapun yang di sampaikan anak kita terima sebagai informasi yang berguna, mendengar dengan aktif, dan hindari hukuman dan ancaman.
  4. Komunikasi harus dibangun bersama, suami dan istri harus bangun komunikasi dengan anak. Tidak ada batasan gender, karena suami dan istri punya porsi yang berbeda. Misalnya, pada saat anak perempuan kita ingin mengalami ‘Haid‘. Bukan hanya istri saja yang menjelaskan tentang ‘Haid‘ tetapi suami juga harus menjelaskan hal tersebut dari sudut pandang laki – laki.

Hal yang paling terpenting sebagai orang tua adalah kalahkan ‘EGO’, untuk mengenal dan mengerti anak. Dan balasan anak jika orang tua sudah menurunkan ego, anak harus belajar untuk Respect kepada orang tua.

Semua Di Mulai Dari Hati

Segala sesuatunya di mulai dari hati kita. Kalau hati kita tidak tenang, semua tidak akan tenang. Kalau hati kita senang, semua akan tenang. Kebahagian tidak ditentukan oleh Situasi / Respon / Pendapat orang lain. Kebahagian ditentukan dari keputusan kita, kita ingin membangun dan mengisi hati kita dengan hal yang baik dan positif atau tidak?

Bagaimana kita tau kalau hati kita sudah memikirkan hal – hal positif tentang keluarga kita? *Renungkan Ini* :

  1.  Jika sekarang kita harus ingat pasangan, anak, atau orang tua kita. Apa yang kita bayangkan tentang mereka?
  2. Bayangan apa yang keluar? Keluh kesah atau Syukur? Kelebihan atau Kekurangan?

Jika yang muncul keluh kesah atau kekurangannya maka hati kita akan penuh keluh kesah, mulut kita akan mengeluarkan kritik, tuntutan, dan bahasa tubuh kita akan muncul ketidak sukaan. Maka benerin dulu pikiran dan hati kita.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, Karena dari situlah terpancar kehidupan.” Amsal 4 : 23

 

Jujur setelah mendengar ini saya sangat tertampar sekali. Karena ternyata hati saya masih belum benar, makanya komunikasi sering sekali tidak lancar dengan suami maupun anak. Tetapi sekarang setelah mendengar ini, saya mau belajar untuk berubah walaupun tidak mudah. Tapi saya percaya dengan kekuatan dan kemampuan dari Tuhan pasti saya bisa melakukannya. Karena saya mau mempunyai komunikasi yang lancar dengan keluarga saya, dan saya tidak kesulitan pada saat anak saya besar nanti.

Bagaimana dengan teman – teman? Apakah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan anak atau suami? Berbagi pengalamannya yuuk di kolom komentar, supaya kita bisa sama – sama sharing dan berbagi pendapat 🙂

 

Tips Membawa Bayi Berumur 40 Hari Untuk Traveling

Hallo ketemu lagii.. ?
 
Sekarang saya ingin berbagi pengalaman dan tips untuk membawa bayi berumur 40 hari untuk ikut traveling ?

Pada saat kita mempunyai anak, sering kali terjadi berdebatan dengan orang tua kita tentang pola asuh untuk anak kita. Tapi percayalah kita sebagai orang tua khususnya seorang ibu, lebih tau tentang anak kita karena percaya atau tidak kita mempunyai kontak batin dengan anak kita.

Pada Agustus 2013, kebetulan suami ada pekerjaan photo prewedding dan calon pengantinnya adalah teman gereja kita. Photo preweddingnya di Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. Jadi saya dan suami berpikir kita sekalian liburan karena sudah 40 hari saya dan bayi di rumah aja. Akhirnya kita menyewa mobil Pregio beserta driver untuk pergi berlibur sambil bekerja. 
Karena umur anak saya masih 47hari, orang tua sempat tidak setuju. Karena menurut mereka kalau belum 2 atau 3 bulan jangan di bawa keluar dan bepergian, apalagi kondisi anak saya itu prematur. Tapi menurut saya, anak saya sehat-sehat aja dan kalau hanya di dalam rumah aja kalau suatu saat diajak pergi atau keluar rumah tubuhnya kaget dan sakit. Lagi pula bayi saya full ASI (Air Susu Ibu), pasti imun tubuhnya lebih kuat. Dan Puji Tuhan dia baik-baik saja selama perjalanan dan selama berada di pantai dengan kondisi angin pantai yang cukup kencang.

Berikut hal yang saya siapkan dan lakukan saat mengajak bayi saya yang berumur 47 hari untuk traveling ke pantai.

 
1. Pastikan bayi kita dalam keadaan sehat 
Pic : From Pexels.com
      
Sebelum bepergian pastikan keadaan bayi kita sehat, tidak demam atau sedang BaPil (Batuk Pilek). Karena jika keadaan bayi kita sedang tidak sehat akan rentan terkena virus diluar sana yang menular lewat udara. Selain itu, kita tidak akan kerepotan karena bayi kita rewel karena kondisi badan yang ga enak.
2. Selalu menggunakan penutup pusar
       Jika kita ingin pergi mengajak bayi pastikan selalu menggunakan penutup pusar. Karena ini efektif banget mencegah bayi kita masuk angin dan menyebabkan perut bayi kita kembung. Karena jika perut bayi kita kembung (colic) itu pasti membuat dia ga nyaman dan akhirnya rewel.
3. Pastikan membawa kebutuhan bayi
Pic : From Pexels.com
      Hal yang terpenting juga, jangan sampai perlengkapan bayi tertinggal. Seperti susur formula (jika tidak ASI), baju, diaper, handuk, peralatan mandi, selimut, bedong, minyak telon, dan keperluan lainnya yang sehari-hari digunakan oleh bayi kita. Lebih baik kita membawa baju, diaper lebih banyak supaya tidak membuat kita kesulitan jika tiba-tiba kehabisan baju karena bayi sering muntah atau berkeringat.
4. Bekerjasama dengan suami
 
        Biasanya bayi yang belum 3 bulan jam tidurnya terbalik, bayi akan tidur di pagi ke malam dan akan bangun atau beraktivitas dari malam ke pagi. Uniknya bayi saya, setiap jam 01.00 pasti bangun dan baru tidur lagi jam 06.00 pagi. Kalau saya tidak bekerjasama dengan suami akan melelahkan sekali. Puji Tuhan, suami saya dapat mengerti dan mau bergantian untuk mengasuh disaat bayi kami terbangun.
5. Kondisi Ibu yang sehat saat bepergian
       Jika kita memberikan bayi kita ASI, pastikan kita dalam kondisi sehat saat bepergian, supaya kita dapat memberikan ASI yang terbaik untuk bayi kita dan bayi kita akan tenang dan sehat selama perjalanan. Selain itu kita juga bisa mengasuh bayi kita dengan baik juga. Karena situasi dan kondisi akan berbeda dengan kita mengasuh bayi yang masih berumur 40 hari di rumah dengan di tempat wisata atau tempat yang baru dikunjungi oleh bayi kita. 
Itu yang saya siapkan semua sebelum saya dan suami memutuskan untuk pergi traveling membawa bayi kita yang masih berumur 47 hari. Hasilnya Puji Tuhan perjalanan kita lancar membawa bayi kita untuk traveling. Walaupun diawal perjalan sempet muntah, mungkin beradaptasi karena perjalanan yang cukup jauh dan kita lama di dalam mobil. Tetapi setelah itu bayi kami baik-baik aja sampai kami kembali ke rumah.
Semoga tips ini dapat membantu ibu, bunda, yang ingin traveling membawa bayi yang masih berumur 40 hari. Selamat mencoba yaa dan selamat berlibur ?

Salam hangat dari saya ? 

Anak Pertama Lahir Dengan Kondisi Prematur

Hallo, ketemu lagi ?

Sekarang saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya selama kehamilan anak pertama hingga lahir dengan kondisi prematur. 
Photo From Dendy Julius
Saya menikah di awal Bulan Oktober 2012, ada keinginan setelah menikah mau touring bersama suami ke Bromo menggunakan motor dan kami akan pergi di awal tahun 2013. Tapi keinginan itu sirna, karena kami mendapatkan hadiah yang paling indah. Saya dinyatakan hamil di akhir November 2012 (Subur bangettt, langsung tokcer hehehe).
 
Saya cek kandungan saya selama hamil di Santosa Hospital Bandung dengan dokter kandungan, Robert Hendrik Siahaan,dr.,SpOG,Mkes. Dokter Robert sangat mendukung pasiennya untuk lahiran secara normal dan juga sangat teliti jadi saya sangat senang cek kandungan degan beliau.


Di trisemester pertama pada umur kandungan 1 dan 2 bulan saya periksa kandungan 2 minggu sekali. Saya diberi penguat kandungan yang harganya cukup mahal dan juga diwajibkan untuk periksa Tokso. Walaupun saya tidak memelihara binatang atau sering berkontak langsung dengan hewan, saya tetap diwajibkan untuk periksa Tokso karena sekarang virus tokso bukan hanya berasal dari binatang tapi dari makanan juga. Setelah diperiksa, Puji Tuhan saya dinyatakan bersih dari virus tokso. Pada saat memasuki trisemester ke dua, dokter Robert mulai memberikan vitamin kalsium yang cukup tinggi bahkan waktu tebus obat dikira saya patah tulang karena dosis vitamin kalsiumnya yang tinggi.

Selama hamil saya sangat senang dan menikmati, karena saya tidak melewati masa-masa mual atau muntah. Maunya makan terus dan paling suka yang manis-manis (saya bisa menghabiskan 1 porsi martabak manis sendiri ?), kalau minuman paling suka minum air kelapa. Hasilnya anak saya kelebihan berat badan hehehe, saat di USG (Ultrasonography) setiap bulan berat badan anak saya selalu lebih besar 1 bulan dari umurnya. Hingga dokter kandungan tempat aku kontrol memberi saya suatu pilihan, jika saya ingin melahirkan secara normal saya harus diet makan yang manis supaya tidak terlalu sulit pada saat melahirkan. Tetapi jika saya ingin melahirkan secara SC (Sectio Caesar) saya tidak harus diet makanan yang manis. Karena saya ingin melahirkan anak pertama secara normal, jadi saya mulai mengurangi makanan yang manis-manis.

Saat memasuki umur kandungan 7 bulan, saya sudah disuruh mengikuti senam hamil. Karena saya ingin melahirkan secara normal jadi saya mengikuti senam hamil seminggu sekali. Menurut saya senam hamil ini bermanfaat sekali buat yang melahirkan secara normal, karena disana kita diajarkan untuk mengatur nafas saat melahirkan, memasuki hamil besar kita sering kali sakit pinggang dan susah tidur. Saat senam hamil kita akan diajari untuk mengatasi sakit pinggang karena baby di dalam kandungan semakin besar dan perut kita juga semakin besar.

Pertengahan bulan Juni 2013, saya membantu suami saya pindahan barang-barang dari tempat kostan yang dulu ke rumah keluarga tempat kami tinggal sekarang. Saya tidak berani mengangkat barang yang berat, saya hanya merapikan dan menyusun barang-barang sampai malam sekitar jam 24.00 WIB. Saat saya mulai rebahan untuk mulai tidur, perut saya merasa keram dan kencang mungkin hanya karena saya kecapean seharian.


20 Juni 2013 pada pagi hari, setelah saya menyiapkan makanan untuk suami pergi kerja dan saya pun pergi mandi untuk siap-siap pergi kerja. Tetapi saat saya mau mandi, ada keluar cairan dari bawah dan cukup banyak tidak tertahankan. Saya langsung bergegas keluar karena menurut saya itu air ketuban (karena pernah diberitaukan pada saat saya mengikuti kelas senam hamil) dan telepon mama saya yang tinggal di Jakarta. Karena suami saya sudah pergi kerja, untungnya di rumah ada tante saya dan oma, jadi saya bisa minta tolong dianterkan oleh tante untuk ke bidan terdekat untuk di cek apakah itu benar air ketuban atau bukan.

Dan ternyata itu benar ketuban, jadi saya pulang kerumah utk bersiap-siap ke Rumah Sakit Santosa sambil membawa keperluan saya jika harus rawat inap. Saya langsung telepon suami saya untuk langsung janjian di Rumah Sakit. Sampai di ruangan dokter Robert, dia kaget karena kehamilan saya baru mau menginjak 8 bulan. Jadi saya disarankan untuk rawat inap, bed rest dan disuntik penguat paru-paru untuk anak saya, karena dokter takut paru-parunya belum siap.
“Pembukaan” cukup lambat, sampai malam hari saya masih “pembukaan 3”. Jadi dokter menyarankan saya untuk dilakukan induksi, belum sampai setengah botol “pembukaannya” lumayan cukup cepat. Dari yang awalnya saya makan yang banyak untuk mempersiapkan tenaga untuk lahiran sampai muntah lagi karena ga kuat nahan mulesnya ??.

Dini hari ini, jam 02.00 WIB saya sudah “pembukaan 10”. Saya langsung dipindahkan ke ruangan bersalin, sampai ruangan bersalin, dokter Robert menghampiri saya “Bu, tahan sebentar yaa saya selesaikan jahitan ibu yang di sebelah”. Dalam hati saya, dokter ga tau rasa sakitnya menahan mules dan tidak boleh ngeden sampai ada instruksi, “SAKIIITTT BANGEETT DOK!!!!” ?

Photo From Dendy Julius

Selama proses melahirkan saya minta ditemani oleh suami, supaya suami tau rasa sakitnya perjuangan saya untuk melahirkan seorang bayi. Jam 03.40 WIB, putra pertama kami lahir. Dokter Robert pun merasa senang dan tenang, karena saat bayi saya keluar langsung menangis. Dari awal dokter Robert cukup kuatir dengan kondisi paru-paru bayi saya yang belum siap, tapi Puji Tuhan paru-paru bayi saya normal dan tidak harus masuk inkubator karena berat badannya cukup (BB: 2.6Kg,Pajang: 50cm).

Ternyata jika ibu kita mempunyai riwayat lahiran sebelum pas 9 bulan, kita harus konsultasikan kepada dokter kandungan kita. Karena setelah saya melahirkan bayi saya, mama saya cerita bahwa mama saya juga melahirkan saya saat umur kandungan masih 7 bulan. Dan dokter Robert mengingatkan, klo memang suda ada riwayat seperti ini harusnya bilang dari awal. Yaa ga tau juga yaa bener atau ga, kalau menurut saya mungkin aja kebetulan sama. Karena kondisi saya sehari sebelum pecah ketuban aktivitas yang saya lakukan cukup cape dan melelahkan hingga perut saya keram.

Semoga tulisan ini bisa membantu mengingatkan ibu-ibu yang sedang hamil besar, untuk bisa lebih berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas yang cukup melelahkan. Sehat selalu untuk bunda dan calon bayinya, amin ?