Anak Pertama Lahir Dengan Kondisi Prematur

Hallo, ketemu lagi ?

Sekarang saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya selama kehamilan anak pertama hingga lahir dengan kondisi prematur. 
Photo From Dendy Julius
Saya menikah di awal Bulan Oktober 2012, ada keinginan setelah menikah mau touring bersama suami ke Bromo menggunakan motor dan kami akan pergi di awal tahun 2013. Tapi keinginan itu sirna, karena kami mendapatkan hadiah yang paling indah. Saya dinyatakan hamil di akhir November 2012 (Subur bangettt, langsung tokcer hehehe).
 
Saya cek kandungan saya selama hamil di Santosa Hospital Bandung dengan dokter kandungan, Robert Hendrik Siahaan,dr.,SpOG,Mkes. Dokter Robert sangat mendukung pasiennya untuk lahiran secara normal dan juga sangat teliti jadi saya sangat senang cek kandungan degan beliau.


Di trisemester pertama pada umur kandungan 1 dan 2 bulan saya periksa kandungan 2 minggu sekali. Saya diberi penguat kandungan yang harganya cukup mahal dan juga diwajibkan untuk periksa Tokso. Walaupun saya tidak memelihara binatang atau sering berkontak langsung dengan hewan, saya tetap diwajibkan untuk periksa Tokso karena sekarang virus tokso bukan hanya berasal dari binatang tapi dari makanan juga. Setelah diperiksa, Puji Tuhan saya dinyatakan bersih dari virus tokso. Pada saat memasuki trisemester ke dua, dokter Robert mulai memberikan vitamin kalsium yang cukup tinggi bahkan waktu tebus obat dikira saya patah tulang karena dosis vitamin kalsiumnya yang tinggi.

Selama hamil saya sangat senang dan menikmati, karena saya tidak melewati masa-masa mual atau muntah. Maunya makan terus dan paling suka yang manis-manis (saya bisa menghabiskan 1 porsi martabak manis sendiri ?), kalau minuman paling suka minum air kelapa. Hasilnya anak saya kelebihan berat badan hehehe, saat di USG (Ultrasonography) setiap bulan berat badan anak saya selalu lebih besar 1 bulan dari umurnya. Hingga dokter kandungan tempat aku kontrol memberi saya suatu pilihan, jika saya ingin melahirkan secara normal saya harus diet makan yang manis supaya tidak terlalu sulit pada saat melahirkan. Tetapi jika saya ingin melahirkan secara SC (Sectio Caesar) saya tidak harus diet makanan yang manis. Karena saya ingin melahirkan anak pertama secara normal, jadi saya mulai mengurangi makanan yang manis-manis.

Saat memasuki umur kandungan 7 bulan, saya sudah disuruh mengikuti senam hamil. Karena saya ingin melahirkan secara normal jadi saya mengikuti senam hamil seminggu sekali. Menurut saya senam hamil ini bermanfaat sekali buat yang melahirkan secara normal, karena disana kita diajarkan untuk mengatur nafas saat melahirkan, memasuki hamil besar kita sering kali sakit pinggang dan susah tidur. Saat senam hamil kita akan diajari untuk mengatasi sakit pinggang karena baby di dalam kandungan semakin besar dan perut kita juga semakin besar.

Pertengahan bulan Juni 2013, saya membantu suami saya pindahan barang-barang dari tempat kostan yang dulu ke rumah keluarga tempat kami tinggal sekarang. Saya tidak berani mengangkat barang yang berat, saya hanya merapikan dan menyusun barang-barang sampai malam sekitar jam 24.00 WIB. Saat saya mulai rebahan untuk mulai tidur, perut saya merasa keram dan kencang mungkin hanya karena saya kecapean seharian.


20 Juni 2013 pada pagi hari, setelah saya menyiapkan makanan untuk suami pergi kerja dan saya pun pergi mandi untuk siap-siap pergi kerja. Tetapi saat saya mau mandi, ada keluar cairan dari bawah dan cukup banyak tidak tertahankan. Saya langsung bergegas keluar karena menurut saya itu air ketuban (karena pernah diberitaukan pada saat saya mengikuti kelas senam hamil) dan telepon mama saya yang tinggal di Jakarta. Karena suami saya sudah pergi kerja, untungnya di rumah ada tante saya dan oma, jadi saya bisa minta tolong dianterkan oleh tante untuk ke bidan terdekat untuk di cek apakah itu benar air ketuban atau bukan.

Dan ternyata itu benar ketuban, jadi saya pulang kerumah utk bersiap-siap ke Rumah Sakit Santosa sambil membawa keperluan saya jika harus rawat inap. Saya langsung telepon suami saya untuk langsung janjian di Rumah Sakit. Sampai di ruangan dokter Robert, dia kaget karena kehamilan saya baru mau menginjak 8 bulan. Jadi saya disarankan untuk rawat inap, bed rest dan disuntik penguat paru-paru untuk anak saya, karena dokter takut paru-parunya belum siap.
“Pembukaan” cukup lambat, sampai malam hari saya masih “pembukaan 3”. Jadi dokter menyarankan saya untuk dilakukan induksi, belum sampai setengah botol “pembukaannya” lumayan cukup cepat. Dari yang awalnya saya makan yang banyak untuk mempersiapkan tenaga untuk lahiran sampai muntah lagi karena ga kuat nahan mulesnya ??.

Dini hari ini, jam 02.00 WIB saya sudah “pembukaan 10”. Saya langsung dipindahkan ke ruangan bersalin, sampai ruangan bersalin, dokter Robert menghampiri saya “Bu, tahan sebentar yaa saya selesaikan jahitan ibu yang di sebelah”. Dalam hati saya, dokter ga tau rasa sakitnya menahan mules dan tidak boleh ngeden sampai ada instruksi, “SAKIIITTT BANGEETT DOK!!!!” ?

Photo From Dendy Julius

Selama proses melahirkan saya minta ditemani oleh suami, supaya suami tau rasa sakitnya perjuangan saya untuk melahirkan seorang bayi. Jam 03.40 WIB, putra pertama kami lahir. Dokter Robert pun merasa senang dan tenang, karena saat bayi saya keluar langsung menangis. Dari awal dokter Robert cukup kuatir dengan kondisi paru-paru bayi saya yang belum siap, tapi Puji Tuhan paru-paru bayi saya normal dan tidak harus masuk inkubator karena berat badannya cukup (BB: 2.6Kg,Pajang: 50cm).

Ternyata jika ibu kita mempunyai riwayat lahiran sebelum pas 9 bulan, kita harus konsultasikan kepada dokter kandungan kita. Karena setelah saya melahirkan bayi saya, mama saya cerita bahwa mama saya juga melahirkan saya saat umur kandungan masih 7 bulan. Dan dokter Robert mengingatkan, klo memang suda ada riwayat seperti ini harusnya bilang dari awal. Yaa ga tau juga yaa bener atau ga, kalau menurut saya mungkin aja kebetulan sama. Karena kondisi saya sehari sebelum pecah ketuban aktivitas yang saya lakukan cukup cape dan melelahkan hingga perut saya keram.

Semoga tulisan ini bisa membantu mengingatkan ibu-ibu yang sedang hamil besar, untuk bisa lebih berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas yang cukup melelahkan. Sehat selalu untuk bunda dan calon bayinya, amin ?  



 

18 thoughts on “Anak Pertama Lahir Dengan Kondisi Prematur

  1. Hallo Mba Janette..kita sama ya. Anak pertama saya juga pecah ketuban dulu pd usia kehamilan 8 bln, tp bedanya anak saya hanya bertahan 1 minggu krn kelainan jantung. Anak.ke 4 jg lahir 8 bln tp alhamdulillah skrg sdh 24 th & dialah anak bungsu saya.

Comments are closed.